Lo pernah nggak mikir gimana caranya bikin iklan yang viral… tapi budget lo nol?
Atau gimana caranya lo jual produk yang bahkan nggak boleh diiklankan di TV?
Gue akan ceritain tentang 5 agensi periklanan dari Iran yang lagi jadi buah bibir di seluruh dunia. Bukan karena mereka punya budget miliaran. Tapi karena kreativitas mereka lahir dari keterbatasan. Dari sanksi ekonomi, dari aturan ketat, dari sensor di mana-mana.
Dan hasilnya? Ada yang bikin video Lego-style yang dilihat 900 juta kali, ngalahin budget propaganda militer AS yang $886 miliar. Ada yang bikin billboard minuman malt samai debat nasional. Ada yang jual pembalut wanita dengan kemasan transparan—sebuah keberanian di negara yang menganggap menstruasi itu tabu.
Gue akan bongkar semuanya. Lengkap dengan data, statistik, dan pelajaran yang bisa lo ambil sebagai praktisi periklanan di Indonesia.
Sebelum Lo Lanjut: Kenapa Iran?
Mungkin lo bertanya: “Kenapa gue harus peduli sama iklan dari Iran?”
Jawabannya sederhana: karena mereka berkreasi dengan tangan terikat.
Di Iran, aturan periklanan itu super ketat . Nggak boleh ada wanita tanpa hijab. Nggak boleh ada musik yang dianggap “provokatif.” Nggak boleh ada promosi gaya hidup Barat. Bahkan, iklan minuman energi aja dilarang di TV dan billboard karena dianggap terkait dengan “nightlife” yang haram .
Tapi justru dari situlah lahir kreativitas gila-gilaan.
“When you have your hands tied, that’s when you need to think outside the box.” — Delaram Mahboubin, pakar marketing energi drink di Iran .
Para kreator ini nggak bisa ngalahin sistem dengan uang. Mereka nggak punya akses ke production house mewah. Yang mereka punya hanyalah kecerdikan, pemahaman budaya lokal, dan keberanian untuk memanfaatkan celah.
Hasilnya? Kampanye yang nggak cuma viral di Iran, tapi juga dibahas oleh The Wall Street Journal, Christian Science Monitor, dan podcast marketing internasional.
Sekarang, gue urutkan dari yang paling viral sampai yang paling kontroversial.
1. Explosive Media – “Lego Ganda”: Propaganda $0 yang Ngalahin Pentagon
Apa yang mereka buat:
Video propaganda bergaya Lego yang menampilkan figur-figur mirip Lego menggambarkan konflik Iran vs AS.
Jumlah views:
900 juta views di berbagai platform .
Budget:
Dekat $0. Cuma laptop, AI tools, dan kreativitas.
Viral di:
The Wall Street Journal nyebut fenomena ini “Lego Ganda” . Christian Science Monitor bikin reportase panjang . Podcast The Russell Brunson Show dedicated satu episode penuh .
Cerita di Baliknya
Bayangkan lo sekelompok mahasiswa Iran. Lo pengen menyampaikan pesan anti-perang ke dunia, terutama ke audiens Amerika. Tapi lo nggak punya budget. Nggak punya akses ke media mainstream. Nggak punya jaringan distribusi.
Apa yang lo lakukan?
Jawaban dari sekelompok orang yang menamakan diri Explosive Media: bikin video pake AI, gaya Lego, dengan musik rap ala Amerika, dan dialog bahasa Inggris.
Hasilnya? Serial “L.O.S.E.R.” mereka dilihat ratusan juta kali. Disinggung di Coachella. Ditiru di mana-mana. Sampai akhirnya YouTube menghapus channel mereka—tapi mereka terus bermunculan di platform lain.
Kenapa Ini Jenius?
Pertama, mereka pake budaya audiens, bukan budaya sendiri . Mereka nggak bikin video dengan figur berjenggot dan musik timur tengah. Mereka pake Lego—ikon budaya pop Amerika. Mereka pake rap—genre musik yang familiar buat audiens muda AS.
Kedua, entertaining beats convincing. Mereka nggak bikin pidato propaganda serius. Mereka bikin video lucu, aneh, dan menghibur. Orang share karena geli, bukan karena setuju .
Ketiga, fast and frequent beats perfect and rare. Kualitas video mereka nggak sempurna. Tapi mereka produksi cepat dan banyak. Setiap kali satu video di-takedown, muncul 3 video baru .
Pelajaran untuk Lo
Kalau lo praktisi periklanan di Indonesia dengan budget terbatas, ini relevan banget. Lo nggak perlu production house mahal. Lo perlu:
- AI tools (Midjourney, Runway, ElevenLabs) buat produksi konten murah
- Pemahaman budaya target audiens (jangan pake bahasa lo, pake bahasa mereka)
- Kecepatan (jangan perfectionist, yang penting rilis dulu)
- Distribusi organik (buat konten yang orang rela share karena entertaining)
Seperti yang diomongin di podcast marketing: “If the most powerful military on Earth can lose a narrative war to students with laptops, your business can lose its audience the exact same way—to someone who tells a better story” .
2. My Lady – Kampanye Pembalut Transparan yang Pecah Tabu
Apa yang mereka buat:
Display rak toko dengan kemasan pembalut wanita yang transparan—bukan lagi dibungkus plastik hitam seperti sembunyi.
Dampak:
1 juta+ views di X, debat nasional soal menstruasi, dan Instagram mereka ditutup pemerintah.
Kontroversi:
Setelah merilis video untuk International Women’s Day yang menyindir larangan perempuan masuk stadion, akun Instagram mereka (1,5 juta followers) ditutup .
Cerita di Baliknya
Di Iran, menstruasi itu tabu. Wanita yang beli pembalut harus minta “dibungkus plastik hitam” dan bilang dengan suara pelan. Toko-toko bahkan nyembunyiin produk ini di balik rak .
Tahun 2025, My Lady memutuskan untuk mengubah itu. Mereka merancang display tolo dengan kemasan transparan. Pembalut terlihat jelas. Nggak ada plastik hitam. Nggak ada rasa malu.
Seorang marketer My Lady nulis di X: “Tujuh tahun lalu, kami harus diam-diam membuka sampel untuk pelanggan. Manajer toko memarahi kami, bilang itu tidak tahu malu. Jadi kami buat booklet kecil dengan tiga sampel di dalamnya—seperti barang selundupan” .
Kenapa Ini Jenius?
Pertama, mereka ngerti bahwa produk mereka bukan cuma produk—tapi alat perubahan sosial. Mereka nggak cuma jual pembalut. Mereka jual “penghapus rasa malu.”
Kedua, mereka pake pendekatan evolusioner. Mulai dari booklet kecil, display transparan, sampai kampanye International Women’s Day. Setiap langkah lebih berani dari sebelumnya.
Ketiga, mereka siap dengan konsekuensi. Mereka tau Instagram bakal ditutup. Tapi mereka juga tau publik akan membela mereka. Dan benar saja, setelah penutupan, banyak yang rally mendukung My Lady .
Pelajaran untuk Lo
Kampanye yang berani beda itu risky. Tapi kalau lo ngerti audiens lo, risiko itu bisa berubah jadi momentum.
Di Indonesia, kita juga punya tabu-tabu marketing. Misalnya: produk kewanitaan, produk kesehatan reproduksi, produk untuk lansia. Pendekatan My Lady bisa jadi inspirasi: normalisasi bukan dengan teriak, tapi dengan kehadiran yang kasat mata.
3. Khanoumi Shop – Iklan Rap Perempuan yang Bikin Instagram Ditutup
Apa yang mereka buat:
Video musik rap dengan penyanyi perempuan muda untuk promosi brand kecantikan online.
Konsekuensi:
Akun Instagram dengan 1,5 juta followers ditutup secara resmi oleh perintah pengadilan .
Bukan pertama kalinya:
Dua tahun sebelumnya, mereka juga rilis video rap dengan boneka animasi perempuan .
Cerita di Baliknya
Khanoumi Shop adalah e-commerce kosmetik dan perawatan diri. Mereka pengen beda dari brand lain yang iklannya “aman-aman aja.”
Maka mereka bikin video rap. Dengan penyanyi cewek. Di Iran, perempuan dilarang menyanyi di depan publik sejak revolusi 1979 .
Hasilnya? Viral dulu. Baru kemudian ditutup.
Kenapa Ini Berani (Dan Kontroversial)
Ini adalah bentuk artistic defiance—perlawanan artistik . Mereka nggak cuma jual produk. Mereka ngirim pesan: “Kami nggak akan tunduk pada aturan yang membatasi ekspresi perempuan.”
Pendekatan ini punya harga mahal: akun 1,5 juta followers lenyap dalam semalam. Tapi juga punya efek: nama Khanoumi Shop disebut di mana-mana. Media internasional nulis soal mereka. Brand awareness meledak—meskipun dalam konteks kontroversial.
Pelajaran untuk Lo
Kampanye kontroversial itu pedang bermata dua. Lo bisa dapet exposure gila-gilaan. Tapi lo juga bisa kehilangan akses ke platform lo.
Kuncinya: apakah audiens lo akan membela lo ketika lo diserang? Kalau iya, mungkin worth it. Kalau nggak, lo bakal sendiri.
4. Barbican (Brand Minuman Malt) – Billboard “Ini Hidup Kita” yang Bikin Heboh
Apa yang mereka buat:
Billboard di Tehran menampilkan botol-botol yang saling bertumpuk seperti adegan minum alkohol di film Barat, dengan slogan “Ini Hidup Kita.”
Kontroversi:
Desainnya dianggap “mengingatkan pada iklan minuman keras” dan “tidak Islami” .
Ironisnya:
Billboard ini sudah dapat izin resmi dari Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam (nomor izin 4031000537, tertanggal 20 Khordad 1404 / Juni 2025) .
Cerita di Baliknya
Barbican adalah minuman malt (non-alkohol). Tapi desain billboard mereka—botol-botol kaca yang ditumpuk, dengan gerakan “cheers”—terlalu mirip dengan iklan bir internasional.
Seorang pembawa acara TV di channel 3 (stasiun TV pemerintah) bahkan mengkritik habis-habisan di acaranya, bilang ini “tidak etis” dan “merusak moral publik” .
Yang bikin heboh: pemerintah sendiri yang kasih izin. Artinya, ada perang internal antara Kementerian Kebudayaan (yang kasih izin) dan moral police (yang protes).
Kenapa Ini Jenius (Atau Gila?)
Ini adalah contoh boundary pushing yang diperhitungkan. Mereka tahu desain ini bakal memicu debat. Mereka tahu bakal ada yang protes. Tapi mereka juga tahu:
- Izin resmi sudah ada—jadi ada “tameng” hukum
- Debat itu sendiri adalah publicity
- Slogan “Ini Hidup Kita” bisa dimaknai ganda: bisa nasionalis, bisa juga “ini gaya hidup kita”
Hasilnya? Nama Barbican jadi trending. Media nasional dan internasional bahas. Biaya billboard mungkin cuma ratusan juta, tapi nilai publisitasnya miliaran.
Pelajaran untuk Lo
Kadang, kontroversi bisa direncanakan. Tapi lo harus punya “kartu as”—dalam kasus ini, izin resmi. Tanpa itu, lo cuma bunuh diri.
5. Delaram Mahboubin – Native Influencer Marketing untuk Energy Drink di Tengah Larangan Iklan
Apa yang dia lakukan:
Membangun strategi marketing untuk energy drink yang dilarang diiklankan di TV dan billboard, dengan pendekatan “native influencer marketing” dan community building .
Hasil:
Brand loyalty yang kuat di kalangan Gen Z dan komunitas extreme sports Iran—tanpa satu pun iklan tradisional.
Cerita di Baliknya
Delaram Mahboubin adalah pakar marketing dengan 15+ tahun pengalaman di industri energy drink—salah satu kategori produk paling sulit dipasarkan di Iran.
Kenapa sulit? Karena energy drink secara kultural dikaitkan dengan nightlife, pesta, perilaku ekstrem—semua hal yang secara resmi dilarang oleh pemerintah .
Solusi Delaram: jangan lawan sistem, kelilingi sistem.
Daripada pake billboard atau TV (yang dilarang), dia fokus ke:
- Influencer marketing, tapi bukan selebriti besar. Dia cari “local influencers”—orang yang punya pengaruh alami di circle tertentu, misalnya atlet parkour atau skateboarder. Mereka nggak cuma endorse produk, tapi benar-benar menggunakan dan menikmatinya .
- Event marketing skala kecil. Nggak ada konser besar atau festival. Tapi ada gathering komunitas, kompetisi skateboard, sesi latihan atlet. Produknya diintegrasikan secara alami ke dalam momen-momen itu.
- Pandemic pivot to digital. Pas COVID, dia pindah total ke Instagram. Konten bukan iklan, tapi storytelling, behind-the-scenes, kolaborasi dengan konten kreator .
Kenapa Ini Jenius?
Delaram mengerti satu hal: kreativitas bukan tentang melakukan sesuatu yang baru, tapi tentang mengadaptasi sesuatu yang sudah ada ke dalam konteks lokal .
Dia nggak menemukan influencer marketing. Tapi dia mengadaptasinya ke kondisi Iran: pilih mikro-influencer yang organik, bukan mega-influencer yang mahal. Buat engagement yang natural, bukan endorsement kaku.
Dia juga ngerti bahwa Gen Z nggak peduli dengan iklan tradisional. Mereka peduli dengan cerita dan pengalaman personal .
Pelajaran untuk Lo
Kalau lo punya produk yang susah diiklankan (misalnya: produk kesehatan, produk dewasa, produk dengan regulasi ketat), pendekatan Delaram bisa jadi inspirasi:
- Jangan coba-coba bohongi sistem. Cari celah dan masuk lewat situ.
- Bangun komunitas, bukan cuma customer base.
- Pilih influencer berdasarkan relevansi, bukan jumlah followers.
- Konten organik > konten iklan.
Tabel Perbandingan Cepat
| Agensi/Brand | Kampanye | Budget | Hasil | Risiko |
|---|---|---|---|---|
| Explosive Media | Lego Ganda propaganda | ~$0 | 900M views | Channel di-takedown |
| My Lady | Pembalut transparan + video IWD | Rendah | 1M+ views, debat nasional | IG ditutup (1.5M followers) |
| Khanoumi Shop | Rap video female artists | Rendah | Viral internasional | IG ditutup |
| Barbican | Billboard “Ini Hidup Kita” | Medium | Kontroversi nasional | Kritik TV pemerintah |
| Delaram Mahboubin | Native influencer marketing | Rendah- Medium | Brand loyalty tinggi | – |
3 Common Mistakes yang Bisa Lo Pelajari dari Mereka (Apa yang Nggak Boleh Ditiru)
1. Terlalu Trust Sama Izin Pemerintah
Barbican punya izin resmi dari Kementerian Kebudayaan. Tapi tetap kena kritik habis-habisan di TV nasional . Pelajaran: izin tertulis nggak menjamin lo aman dari backlash moral. Siapkan strategi krisis.
2. Bergantung pada Satu Platform
Khanoumi Shop dan My Lady kehilangan akun Instagram mereka. Ini mengingatkan: jangan pernah taruh semua telur di satu keranjang. Pastikan lo punya channel komunikasi lain (email, WhatsApp, Telegram, website) buat engage audiens kalau platform utama lo ditutup.
3. Lupa dengan Konsekuensi Hukum
Explosive Media mungkin nggak bisa kembali ke Iran setelah video Lego mereka. Mereka bekerja secara anonim dan dari luar negeri. Kalau lo sebagai agensi di Indonesia berencana bikin kampanye kontroversial, pastikan lo siap dengan konsekuensi hukum dan sosialnya.
Practical Tips dari “Kreativitas dalam Keterbatasan”
Gue rangkum 5 actionable insights dari 5 agensi ini:
1. Gunakan AI untuk “Setara” dengan Big Budget
Explosive Media nggak punya budget produksi. Tapi dengan AI tools (generative video, text-to-speech, image generation), mereka bisa bikin konten yang engaging. Lo juga bisa. Mulai dari tools gratis/ murah: Runway, Pika Labs, ElevenLabs, Midjourney.
2. Pahami Budaya Audiens Lebih Dalam dari Mereka Sendiri
Explosive Media pake Lego, rap, dan meme—semua elemen budaya Amerika. Kenapa? Karena target audiens mereka orang Amerika. Jangan pake bahasa lo. Pake bahasa mereka.
3. Normalisasi dengan Kehadiran, Bukan Teriakan
My Lady nggak bikin kampanye “Hapus Stigma Menstruasi” dengan poster teriak-teriak. Mereka cuma display produk secara transparan. Dan itu lebih powerful karena subtle. Kadang, perubahan paling besar dimulai dari kehadiran yang kasat mata.
4. Bangun Komunitas, Bukan Customer Base
Delaram nggak beli iklan. Dia bangun hubungan dengan atlet, influencer lokal, dan komunitas extreme sports. Hasilnya? Brand loyalty yang nggak bisa dibeli dengan uang. Investasi di hubungan, bukan di reach.
5. Siapkan “Kartu As” Sebelum Bikin Kontroversi
Barbican punya izin resmi sebelum billboard mereka dipasang. Itu “tameng” mereka waktu kena kritik. Kalau lo mau bikin kampanye yang berani, pastikan lo punya backup plan dan legal standing.
Kesimpulan: Kreativitas Itu Tentang Adaptasi, Bukan Inovasi
Dari 5 agensi periklanan Persia yang lagi viral ini, gue belajar satu hal:
Kreativitas sejati lahir bukan ketika lo punya segalanya. Tapi ketika lo nggak punya apa-apa.
Mereka nggak punya budget miliaran. Nggak punya akses ke media mainstream. Nggak punya kebebasan ekspresi.
Tapi justru karena keterbatasan itu, mereka dipaksa untuk berpikir: “Kalau nggak bisa lewat sini, lewat mana?”
Dan jawabannya sering kali lebih cerdas, lebih orisinal, lebih “nempel” di hati audiens daripada kampanye berbudget gede yang aman-aman aja.
Pertanyaan buat lo yang baca ini:
Lo mau jadi marketer yang bikin kampanye “aman” dengan budget gede, tapi cuma jadi white noise di tengah kebisingan?
Atau lo mau jadi marketer yang pinter memanfaatkan keterbatasan, paham budaya audiens, dan berani mengambil risiko terukur?
Pilihan ada di lo.
Gue tutup dengan quote dari Delaram Mahboubin yang mungkin jadi filosofi buat kita semua:
“Innovation is not just about doing something entirely new. It’s about how we adapt, how we use the tools available to us, and how we navigate the challenges we face. That, in itself, is creativity.”
Sekarang giliran lo berkreasi.
Kalau lo penasaran sama salah satu agensi di atas atau mau diskusi lebih lanjut, komen di bawah ya. Atau DM gue. Tapi jangan minta gue bikinin video Lego buat brand lo, gue bukan Explosive Media. Hehe
